You Are Reading

0

Aku bangga punya mama yang hebat.mama is best of the best :)

istiani ramadhani Rabu, 24 Oktober 2012
Hujan turun membasahi bumi. Percikan air terdengar di telingaku. Sang mentari nampak tak bergairah tuk muncul menerangi kehidupan pagi hari. Ku melangkah dengan tegar mengawali cakrawala kehidupan. Pagi itu sangat lamban, sangat terasa mengantuk dan malas. Namun kata mama kita harus melawan rasa malas yang menempel pada tubuh kita ini. Kita harus membuang jauh-jauh rasa malas itu. Karena rasa malas bagaikan sesuatu yang dapat menghancurkan semua harapan dan impian. Tetapi aku menghiraukannya. Walaupun mama memang benar tetapi aku memilih untuk tetap di kamar pada pagi itu. Darah terus mengalir, detak jantung terus melantun, nadi terus berdenyut, langkah terus berpadu dalam warna-warna kehidupan. Mama setiap hari menasehatiku tentang semua hal ini dan itu. Mama bilang kalau kita bertindak harus berfikir dua kali. Padahal aku selalu berfikir sebelum bertindak. Tetapi yang kurasakan aku tetap salah. Sampai-sampai aku berfikir bahwa ini sungguh tidak adil. Aku kadang merasa benci sama mama. Aku merasa tidak berguna dilahirkan. Untuk apa aku dilahirkan? Kalau berbuat sesuatu dianggap selalu salah. Hingga aku lebih suka bermain daripada dirumah. Walaupun begitu mama selalu tetap menasehati dan membimbingku tanpa lelah dan tidak pernah putus asa. Malahan mama tambah semangat seiring bertambahnya umurku. Mama tidak pernah marah dan bersikap kasar denganku. Suatu hari aku ingin bermain keluar bersama teman-temanku. Aku ingin seperti mereka yang bebas bermain kapanpun, dimanapun, dan tidak diawasi oleh mamanya seperti aku. Ketika aku sudah bersiap-siap akan pergi ternyata mama tidak mengizinkan untuk pergi bermain. Aku langsung marah-marah. Aku merasa bahwa ini tidak adil. Dan ini terlalu mengekang dalam hidupku. Padahal aku ingin bebas seperti teman-temanku. Tetapi mama tetap tidak mengizinkan dengan alasan entah apa. Karena aku langsung masuk kamar dan mendengarkan musik dengan rasa marah dan kesal. Kadang aku sering marah dengan mama dan bersikap kayak anak kecil memusuhi temannya terhadap mama. Namun mamaku tidak pernah membalasnya dengan begitu. Ia tetap menyiapkan semua kebutuhanku setiap hari. Seperti pagi itu. Ia telah menyiapkan makan pagi untuk semua keluargaku. Tidak sepeti biasanya aku bangun pagi sehingga bisa berangkat sekolah pagi hari tidak seperti biasanya. Dikelas yang masih kosong tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang perempuan. Akupun merinding ketakutan. Ditambah dengan suasana sepinya sekolah dan semilir angin. Teringat dalam benakku cerita-cerita horor dari teman-temanku yang menambah takutnya diriku. Terlihat bayangan hitam datang semakin mendekat. Dan terasa ada sebuah tangan memegang bahuku. Akupun langsung lari terperanjat ketakutan. Ternyata itu hanyalah temanku yang kemudian langsung tertawa. Akupun langsung menuju tempat dudukku di belakang. Tiba-tiba ada seseorang duduk menunduk di bawah meja sambil menangis terisak-isak. Akupun kaget, ternyata yang menangis itu teman sebangku aku yang setiap hari menemaniku kemanapun aku pergi. Lalu ia menceritakan apa yang terjadi. Temanku itu mempunyai kedua orang tua yang cukup berada.
Tetapi 3 bulan yang lalu mamanya meninggal karena kecelakaan. Sehingga ia tinggal bersama ayahnya. Dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik sebulan yang lalu. Temanku menceritakan bahwa sejak 3 bulan yang lalu tidak pernah sarapan pagi. Dan setelah ayahnya menikah lagi, bukannya ia senang tetapi malah bertambah sedih. Ia sering kali diterlantarkan oleh mama tirinya. Bahkan ia sering kali dimarahi, ditampar, bahkan sampai dipukuli oleh mamanya. Ayahnya pun tak pernah memperhatikannya karena terlalu sibuk bekerja. Sehingga ia seringkali menangis pagi-pagi di bawah meja kelas untuk menenangkan pikiran dan menahan lapar karena tidak sarapan pagi. Aku pun langsung tersentak mendengar semua ceritanya. Aku baru sadar ternyata ada yang jauh lebih tidak adil. Aku sadar, ternyata selama ini aku hanya mementingkan diriku sendiri dan mengabaikan orang lain. Kini aku menyadari bahwa selama ini akulah yang tidak adil kepada mama. Aku kurang bersyukur dengan apa yang dianugrahkan Allah Swt. Aku seharusnya bersyukur mempunyai mama seperti mamaku ini. Mamaku adalah wanita yang paling baik yang pernah aku temui. Mamaku adalah wanita yang selalu ada dalam suka maupun duka. Mamaku adalah wanita paling sabar. Mamaku adalah orang yang paling tahu isi hatiku. Mamaku adalah orang yang pertama memberiku kasih sayang yang tak ternilai harganya. Mamaku adalah orang yang paling banyak memberikan pelajaran tentang kehidupan. Mamaku adalah wanita hebat. ` Selama inilah mamaku yang merawatku hingga besar seperti ini. Mamalah yang rela mengorbankan nyawanya demi aku. Mamalah yang dulu rela membawaku pergi kemana-mana. Mamalah yang rela tidak tidur sehari semalam ketika merawatku sakit. Mama seseorang yang memberikan kasih sayang tiada tara. Beliau dengan iklas memberikan apapun yang dipunya. Siang dan malam selalu ada untukku. Mamaku tak mengenal lelah. Beliau bekerja keras dan berjuang demi anak-anaknya. Ia tidak pernah meminta bayaran sepeserpun. Mama tak pernah mengeluh seperti aku. Mama yang setiap hari merawatku. Setiap hari mama selalu peduli terhadap aku. Mama yang setiap hari selalu ada untukku. Tetapi, mengapa aku tidak menyadarinya? Mengapa aku selalu mementingkan diriku sendiri. Ini memang sangatlah tidak pantas jika dibalas dengan benci, marah dan sikap tidak sopan terhadap beliau. Sungguh sebenarnya akulah yang tidak adil. Bukan mama yang tidak adil. Mama hanya ingin anak-anaknya bahagia dan menjadi anak yang baik apabila menasehati kita. Jadi bukan mama yang tidak adil. Mama, maafkan semua kesalahanku yang telah aku perbuat, maafkanlah anakmu yang telah mengecewakanmu. Mama maafkan aku. Hanya kata terimakasih yang dapat kulakukan selama ini untuk membalas segala yang telah diberikan oleh mama. Ini sangat tidak sebanding dengan apa yang telah diberikan. Aku ingin tidak mengecewakan mamaku lagi. Aku ingin mama bahagia. Aku ingin membalas semua yang telah diberikan oleh mama. Demikian juga ayahku. Ayahku yang selalu setia mengantarkanku kemana pun pergi. Yang tak pernah mengeluh untuk selalu memberikan yang terbaik buat anaknya. Ayah yang tidak pernah marah sekalipun. Aku seharusnya bersyukur mempunyai mama dan ayah yang luar biasa hebatnya. Akupun merasa malu dengan ayah dan mamaku. Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Rasanya sungguh aku ini anak yang tidak berguna. Aku tidak ingin mama dan ayahku kecewa lagi. Aku ingin membalasnya semua yang telah diberikan mama dan ayahku selama ini. Aku tidak ingin hanya berdiam diri saja. aku harus berbuat untuk membahagiakan mereka. karena Allah Swt memberikan dua kaki untuk melangkah meniti masa depan yang indah, Allah memberikan dua tangan untuk memegang dan meraih semua impian, Allah memberikan dua mata untuk melihat warana kehidupan. Ingin kuraih semua cita-citaku yang tinggi dan kugapai dengan usaha dan kesungguhan untukmu. Aku ingin melihat mama dan ayahku bahagia dan tidak kecewa kepadaku. Ya Allah, lindungilah mamaku ini. Ya Allah berikanlah umur yang panjang bagi kedua orang tuaku. berikanlah mereka ketabahan dalam menghadapi segala rintangan. mudahkanlah segala urusannya. “Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa” By : Istiani Romadhoni

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2010 a little place of story